Friday, 5 March 2021

Saturday, 20 February 2021

HBD

 

 

 Selamat Ulan Tahun Kakak Amelianus Tekege dan Ketua FOKMAP NTT, Rabinnus Ngwijangge


    Ulang Tahun adalah suatu kesempatan yang menerima bagi kita menambahkan usia,  dimana tepat pada tanggal kelahiranNya, dalam setahun sekali pada perorangan yang mana kita merasakan hal yang sama tetapi acara dan perasaan yang berbeda sesuai kondisi pada saat terjadi hari bahagianya itu,  maka  selaku Teman, sahabat, Keluarga dan orang-orang yang perna kenal sering kita ucapkan selamat ulang tahun dengan berbagai fersi kata-kata yang membahagikanNya.

    Untuk itu Yosep Mote sangat turut berbahagia bersama Amelianus Tekege dan Rabinus Ngwijangge yang telah dan sedang menikmati hari kelahirang dan merasa bahagia kerana menamba setahun pada usia yang ke 27 Tahun dan 23 Tahun. Karena ini ada anuhgra Tuhan yang kita dapat renung kembali di tiap Tahun. Maka Semoga kesempatan ini, melanja kedewasaan dalam tugas pokok yang telah ada dan akan ada inspirasi memimpin dan melayani kalangan masyarakat dan dalam organisasi, agar terkesan bagi kita yang telah bagian dari berdua.

Wednesday, 5 June 2019

PEBENTUKAN DAN PENYERAHAN SURAT KETERANGAN KEPADA PANITIA MAHASISWA BARU PAPUA NTT 2019-2020

PEMBENTUKAN DAN PENYERAHAN SURAT KETERANGAN KEPADA PANITIA MAHASISWA BARU FOKMAP NTT 2019-2020



Pembentukan panitia penerimaan mahasiswa baru  Organisasi FOKMAP NTT telah dibentuk pada hari sabtu tanggal 1 Juni pukul 20.00 WITA. Pembentukan ini langsung dibentuk dan ditetapkan pada hari Rabu tanggal 5 juni pukul 21.00 WITA oleh rapat bersama seluruh anggota FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA KUPANG.

Kata Yosep Mote, Proses pemilihan ini wajib di ketuai oleh mahasiswa angkatan 2017 karena Ia ingin melihat kepemimpinan dari angkatan 2017  sebagai moment terakhirNya bersama angkatan 2017 karena kemungkinan bulan desember Ia akan wisuda dan pulang papua.

Pemilihan ketua pun langsung diberiakan tanggung jawab kepada angkatan 2017 dan langsung didiskusikan oleh angkatan 2017 untuk memilih ketua panitia Mahasiswa Baru 2017.

Imanuel Wenda terpilih menjadi ketua Pemenerimaan Mahasiswa Baru, Sekertaris Maickel Mirip dan bendahara Fransiska Tekege proses pemilihan ini berlangsung pada hari Sabtu 1 Juni 2019 dan ditetapkan dengan pemberian Surat Keterangan pada hari Rabu tanggal 5 juni tepat pukul  21.00 WITA.

Ketua panitia Imanuel Wenda mengatakan, dengan adanya program penerimaan mahasiswa baru ini Ia berharap agar semua mahasiswa papua harus berpartisipasi dalam aktivitas pencarian dana. Sehingga kegiaan ini juga dapat berlangsung dengan baik. Imanuel Wenda juga berharap, dengan adanya kegiatan ini kami bisa semakin mempersatukan tali kekeluargaan Organisasi Mahasiswa Papua di NTT.


Proses pemelihan Panitia Penerimaan  Mahasiswa baru Papua  ini juga berakhir dan langsung  ditutup dengan doa bersama.  

Saturday, 25 May 2019

MUSYAWARAH BESAR PELANTIKAN DAN SYUKURAN MAHASISWA PAPUA NTT


TELAH USAI MUSYAWARAH BESAR PELANTIKAN DAN SYUKURAN BADAN PENGURUS BARU TAHUN 2019/2020 Di KUPANG NTT
           




         Realita.Net, Musyawarah Besar (MUBES), Merupakan  musyawarah besar dalam suatu organisasi guna untuk mengambil sebuah keputusan. Dalam Rapat Musyawarah besar pada tanggal 24-25 tersebut FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA PAPUA NTT atau biasa disebut dengan FOKMAP NTT melakukan pergantian Badan Pengurus untuk tahun 2019/2020 melalui tema : “ Melalui MUBES Ini Mewujudkan jiwa kepemimpinan yang bertanggun jawab, disiplin dalam Organisasi untuk (FOKMAP-NTT), Yang  Lebih Baik”

          Dalam rapat MUBES FOKMAP  tersebut, ketua lama Yosep Mote berharap rapat MUBES kita kali ini  harus terelaksanakan dengan baik yaitu dengan adanya pembahasan, pleno, tata tertip, Angaran Dasar (AD)  dan Angaran Rumah Tangga (ART)  yang dimiliki oleh Organisasi FOKMAP NTT. Sehingga  organisasi ini nantinya juga natinya  dapat  dijalankan dengan baik oleh Badan Pengurus FOKMAP NTT tahun 209/2020, ujar Yosep Mote ( Ketua FOKMAP NTT tahun 2016/2018)

Mubes ini diawali dengan upacara pembukaan yang  dipimpin oleh Ketua FOKMAP-NTT lama atas nama Yosep Mote, Sekaligus menjalankan persidangan sementara dan di lanjut pembagian komisi sidang, Persidangan pleno, pengajuan bakal calon, uji Kriteria, Pembacakan visi dan Misi oleh calon masing-masing dan pemilihan badan pengurus secara demokrasi.
 Pemungutan suara dilakukan secara demokrasi yang mana dalam persidangan tersebut dipimpin oleh  Nama Alvin Yikwa,.
Dari hasil persidangan tersebut dilakukan pemilihan ketua dan anggotonya secara demokratis. Berikut ialah nama-nama anggota FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA KUPANG NTT :

PENASEHAT 
1. Orang Tua     : pdt. Baber Siep Karoba
2. Alumni          : Seluruh Alumni Mahasiswa NTT
3. Senior            : Yosep Mote

            KETUA             : Rabinus Gwijangge
SEKERTARIS   : Dotin Yikwa
BENDAHARA  : Lin Tabuni

BIDANG-BIDANG

            1. Bidang Kerohanian                         : Kordius Wenda dan Detty Itlay
2.Bidang Pemberdayaan Ekonomi     : Fransiska Tekege dan Tekla Tumok
3. Bidang Minat dan Bakat                 : Obet Nego dan Lelita Antoh
4. Bidang Pendidikan                         : Alvin Yikwa dan Theodorus Maday
5. Bidang Pubdokdek                         : Emanuel F.S Adii dan Yumina Mabel
5. Bidang Keamanan                          : Emanuel Wenda dan Ayub Yohame

Rabinus Gwijangge selaku ketua FOKMAP NTT  mengaku bahwa dengan terpilihnya sebagai ketua FOKMAP NTT 2019-2020 ini dapat kembali memepersatukan pikiran, tujuan dan komitmen untuk menyukseskan setiap kegiatan-kegiatan yang akan kita buat meskipun  dalam hal tersebut akan kita jalani dengan susah ataupun senang. Tetapi Gwijangge berkata  semua itu demi menjalankan dan melindungi kekeluargaan dan persaudaraan dalam persatuan mahasiswa Papua NTT. oleh sebab itu mari kita sama-sama Merangkul, Menjaga, Membina, Memperjuangkan, Mempertahankan, dan menyukseskan Papua sebagai Alam tercinta kita.


Pelantikan Badan Pengurus baru ini langsung diberkati dengan doa oleh pendeta Baber Siep Karoba. Sebagai penasehat tertua pak pendeta Baber Siep Karoba juga berharap  semoga organisasi ini dapat membawa generasi-generasi mudah papua dapat mejadi berkat untuk Alam papua menjadi alam yang maju.

Selanjutnya, dengan berakhirnya pengesahan bandan pengurus Organisasi FOKMAP NTT dilanjutan dengan acara  doa pemberkatan kepada kaka THEODORUS MADAI yang telah menyelesaikan ujiannya dan juga doa perpisahan  kaka senior kita yaitu Epinus Heluka, S.Pd yang akan pulang papua pada hari Minggu 26 Mei 2019 pukul 18.00 WITA. Epinus Heluka juga berkata sebagai kesan dan pesan terakhirnya bahwa 'tetaplah berusaha, mencapai yang terbaik untuk tanah papua karena tanah Papua lagi menunggu Mu, jangan malas, ubahlah pola pikirnya menjadi yang terbaik. Ingat Alam Papua menunggumu ADIK.'

    penulis: eman f.s adii




Monday, 15 April 2019

MAHASISWA PAPUA KUPANG PERNYATAAN SIKAP


Mahasiswa Papua Kupang
Pernyataan Sikap
“Pesta Demokrasi Sejati adalah Pelaksanaan Hak Menentukan Nasib Sendiri”
Salam Pembebasan Nasional West Papua !!!
Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak
Wa…wa…wa…wa…wa…wa..wa..wa..wa..wa !!!

BOIKOT PEMILU 2019 DAN BERIKAN HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI SEBAGAI SOLUSI DEMOKRATIS BAGI BANGSA WEST PAPUA
West Papua telah mendeklarasikan diri sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat pada 01 Desember 1961. Namun, usia kemerdekaan ini sangatlah pendek.  Tepat 19 hari setelahnya, Indonesia menganeksasi West Papua melalui program Trikora. Trikora adalah pintu awal masuknya operasi militer yang berdarah-darah. Semenjak itu, dan dalam kurun waktu 1961-1991, ada sedikitnya 44 operasi militer dengan mobilisasi ribuan angkatan bersenjata ke Papua. Hasilnya lebih dari 500.000 orang Papua di bunuh.
Sebagian besar rakyat Indonesia percaya, atau dipaksa percaya, bahwa Papua merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah dan kehendak rakyat Papua itu sendiri. Proses integrasi Papua ke Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dilakukan dengan cara-cara represif dan bertentangan dengan hukum internasional. Dari 800an ribu jiwa penduduk Papua hanya 1025 orang (4 orang lainnya tidak ambil bagian) yang terlibat dalam pemungutan atau kurang dari 0,2% dari populasi Papua, yang dikondisikan setuju untuk integrasi dengan Indonesia. Inilah alasan mengapa sekalipun proyek mengindonesiakan Orang Asli Papua berlangsung hingga 50-an tahun lamanya, rakyat West Papua tetap pada pendirian awal: lepas dari NKRI.
Sejarah memperlihatkan pada rakyat West Papua, juga rakyat Indonesia, bahwa Indonesia hampir selalu gagal menjawab berbagai permasalahan yang terjadi di West Papua. Mulai dari soal pelanggaran kesepakatan New York Agreement 15 Agustus 1962, ketika Indonesia diwajibkan menyelenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat secara one person one vote; genosida perlahan setelahnya selama kurun 50-an tahun; perusakan hutan yang begitu masif; gizi buruk; eksploitasi begitu masif terhadap bahan-bahan tambang (emas, tembaga, uranium, minyak, gas dsb)—yang berakibat peningkatan jumlah ton tailing yang merusak alam West Papua; ketimpangan sosial antara penduduk asal dan pendatang; extra judicial killing terhadap warga sipil termasuk aktivis; perlakuan rasis terhadap rakyat West Papua; hingga pengekangan kebebasan berkumpul dan berpendapat.

Kontestasi pemilu tahun ini sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Masing-masing partai, beserta calon-calon legislatifnya dan calon presiden serta wakil presiden, berebut suara dari rakyat West Papua. Tapi mari kita perhatikan, apakah mereka bersedia mendengarkan suara rakyat Papua yang paling mendasar, “hak menentukan nasib sendiri”? Atau bicara soal mengurangi mobilisasi militer dan mengadili para pelaku pelanggar HAM? Atau menjamin kebebasan berkumpul dan berpendapat bagi semua kelompok sipil?
Meski suara dukungan rakyat West Papua jadi rebutan, ironisnya dalam debat Pilpres pertama, soal West Papua sama sekali tidak diperbincangkan baik oleh Jokowi maupun Prabowo. Prabowo sendiri memiliki track record buruk di Papua dalam kasus Mapenduma. Namun, bukan berarti Jokowi lebih baik. Jokowi sebagai incumbent, telah membiarkan pelanggaran hak asasi manusia berulang kali terjadi. Misalnya, kasus Paniai Berdarah yang tak rampung, kasus Deiyai dan Dogiyai yang juga tak selesai, belum lagi kasus-kasus penangkapan massal terhadap para aktivis West Papua yang belakangan makin sering terjadi.
Jokowi memiliki kekuasaan. Namun, kekuasaannya tidak digunakan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM dan membiarkan pelanggaran HAM terus terjadi. Pembiaran itu artinya, mengiyakan dan jadi bagian perbuatan pelanggaran HAM.
Ditambah lagi, sampai sekarang  masih dilakukan operasi militer di Nduga (Distrik Dal, Distrik Yigi, Distrik Mbua, Distrik Mikuri, Distrik Enikngal, Distrik Yal, Distrik Mam dan Distrik Mugi). Sebagaimana operasi-operasi militer sebelumnya di West Papua, operasi militer itu memakan banyak korban sipil. Puluhan rakyat termasuk anak-anak meninggal, terjadi penahanan dan pembakaran rumah. Ada setidaknya 20 ribu orang yang terpaksa mengungsi keluar dari daerah tersebut.
Akibatnya, pendidikan, kegiatan ekonomi, dan keagamaan, tak berjalan dengan normal. Akses pemerintahan sipil, wakil rakyat, jurnalis, pekerja kemanusiaan, sangat sulit. Kehadiran aparat TNI/Polri di sana justru menyebabkan rakyat trauma.
Kondisi hari ini, Pemilu 2019 kolonial Indonesia akan dilakukan di seluruh daerah secara serentak pada 17 April 2019 mendatang, yang mana adalah salah satu agenda kolonial di tanah West Papua untuk membungkam proses perjuangan gerakan rakyat West Papua dalam perjuangan kemerdekaan, serta meloloskan agenda kolonial dan kapitalis Internasional. Media-media Indonesia memberitakan pemerintah akan mengerahkan aparat sebanyak 3.000 – 15.000 untuk mengamankan Pemilu di West Papua. Proses pengamanan Pemilu 2019 Indonesia di tanah West Papua juga merupakan bagian dari operasi militer yang akan di lakukan di beberapa tempat terutama di Nduga. Melalui militernya, pemerintah Indonesia terus melakukan kolonisasi, juga dengan cara melakukan pembungkaman, penindasan, penembakan, pemboman, penyisiran, pemerkorsaan, penangkapan, pemenjarahan dan beragam penindasan terhadap rakyat West Papua. Pemerintah Indonesia juga berusaha membungkam pergerakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat [TPNPB] dengan menyebut mereka dengan sebutan KKB, KKBS, separatis, dan tak mau mengakui sebagai tentara pembebasan. Perjuangan sipil untuk menuntut Hak Penentuan Nasib sendiri juga diangggap sebagai separatis hingga saat ini; termasuk pembungkaman ruang demokrasi mahasiswa, perempuan, buruh, tani, nelayan, mama-mama pasar Papua dan lain-lain.
Dalam kenyataan sejarah dan keadaan seperti itu, wajar jika rakyat West Papua tak berpusing soal Pemilu maupun Pilpres 2019. Gelaran tersebut hampir mustahil menjadi hal yang penting bagi rakyat West Papua. Sebab, 1) keberadaan Indonesia di wilayah West Papua ilegal, 2) tak ada partai politik yang menyuarakan permasalahan nasional West Papua, dan 3) pelaksanaan Pemilu itu sendiri tak lain hanya untuk melanggengkan praktek-praktek kolonialisme: menjadi alat bagi pemerintahan kolonial untuk menempatkan penguasa-penguasa lokal dalam mengamankan kepentingannya.
Kami dari Mahasiswa Papua Kupang, seperti halnya rakyat West Papua, mustahil membayangkan adanya demokrasi, kesejahteraan, bagi rakyat West Papua jika masih berada dalam cengkeraman kolonialisme Indonesia. Tak ada pesta demokrasi jika rakyat tak memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Untuk itu kami mengambil sikap dan menyatakan bahwa:
1.    Tidak mengikuti Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum 2019
2.    Segera tangkap dan adili pelaku pemukulan terhadap massa aksi di malang
3.    Tarik militer organik dan non-organik dari West Papua
4.    Tutup Freeport, BP, LNG Tangguh, MNC, dan yang lainnya, yang Merupakan Dalang Kejahatan Kemanusiaan di atas Tanah Papua.
5.    Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi rakyat West Papua
6.    Berikan ruang demokrasi dan akses bagi Jurnalis Independent Internasional dan Nasional di West Papua.
Demikian pernyataan sikap ini dibuat, kami akan terus menyuarakan dan melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, pembungkaman,  penindasan dan penghisapan, terhadap Rakyat dan Bangsa West Papua.
Salam Solidaritas !
Kupang , 13 April 2019
Mahasiswa Papua Kupang

Tuesday, 2 April 2019

PEDULI KEMANUSIAAN


PEDULI KEMANUSIAAN
PRAY FOR PAPUA
Pada Sabtu, 16 Maret 2019 Jayapura diguyur Hujan lebat. Hujan ekstrem saat itu menumpahkan 248,5 milimeter per detik selama tujuh jam dari pukul 5 sore waktu setempat. Banjir bandang dan longsor menghantam Kota Jayapura, Papua pada sabtu 16 Maret 2019, menimbulkan korban jiwa dan harta benda.  Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat 22 Maret menyatakan korban tewas akibat Banjir Bandang Sentani, Papua, Mencapai 112 orang. Sementara masih ada 94 orang yang dinyatakan Hilang. Jumlah korban luka-luka hingga saat ini Mencapai 915 orang. 107 orang di antaranya mengalami luka berat, 808 orang luka ringan
Hingga Saat ini pengunsi mencapai 11.556 jiwa dari 3.011 yang tersebar di 28 titik Pengunsian. Banjir Bandang Sentani membuat sejumlah bangunan rusak berat antara lain 375 rumah, empat jembatan, lima tempat ibadah, delapan sekolah, 104 toko dan satu pasar.
Dugaan penyebab Banjir Bandang Terbentuknya bendungan alami digunung Cyclops akibat longgsor menyebabkan alliran sungai tersumbat dan jebol. Data WWF dan BNPB penyebab Banjir curah hujan tinggi, Hopografi hulu Curam, batuan di hulu muda tererosi, longgsor alami di wilayah timur Sentani, bendungan alami jebol, kerusakkan hutan. Mengakibatkan daerah Sentani, Waibu, Sentani Barat, Depapre dan Ravenirara terkena Banjir Bandang.
Selain banjir bandang di Sentani Papua, ada Pengusian warga sipil di Kabupaten Nduga. Warga sipil mengunsi karena menghindari perang antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Selama Empat bulan dari Desember-Maret 2019, sejumlah warga sipil Nduga masih di tempat Pengunsian. Kondisi para Pengunsian Nduga di Wamena Ibu kota Kabupaten Jayawijaya, masih memprihatinkan dan kekurangan bantuan. Terdapat lebih dari 600 anak usia sekolah yang kini belajar di sekolah Darurat. Hingga saat ini para anak usia sekolah dan keluarganya masih menggantungkan Penghidupan mereka hanya dari Gonasi gereja Dan Masyarakat Setempat.

Hingga hari ini Masyarakat Sipil Sentani-Jayapura dan Nduga yang mengunsi akibat banjir Bandang Sentani dan Perang di Nduga membutuhkan bantuan untuk penghidupan mereka. Maka kami dari Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Nusa Tenggara Timur (FOKMAP NTT), Melakukan aksi Pembakaran Seribu Lilin untuk Papua dan aksi Penggalangan Dana di Taman Nostalgia Kupang. Dana yang kami dapatkan akan dikirimkan ke Pengungsian masyarakat Sipil di Sentani dan Nduga Papua.  
Dengan melihat kondisi terurai diatas itu maka kami Forum Komunikasi Mahasiswa Papua  Ntt,  telah bentuk Panitia darurat peduli kemanusiaan  bencana Alam sentani, Bencana Alam Merauke Dan Perang Nduga untuk itu kami melakukan dengan kegiatan Penggalangan dana dan ujutan DOA Seruhan 1000 Lilin Ntt untuk Papua.
Dua kegiatan yang telah terlaksana yaitu : Kegiatan Penggalangan Dana dan Seruhan 1000 lilin karena rasa Peduli Kemanusiaan terhadap Tanah Air Papua yang sedang Tangis dengan akibat  Bencana Alam, dan Pengungsian yang dilanda oleh Sentani, Nduga, dan Merauke.   Untuk itu FOKMAP NTT, Melakukan kegiatan dengan THEMA PRAY FOR PAPUA” dan kegiatan Seruhan 1000 Lilin Ntt untuk Papua, pada Tanggal 24 Maret 2019 dengan waktu 3(Tiga) Jam 18.00-21.00,  Di Taman Nostalgia Kupang NTT, Telah usay.

Dan laporan Penggalangan dana secara Terperincinya akan melaporkan setelah Karkulasi dan Alokasi ujarnya Kordinator Lapngan Rabinus Gwijangge.!!!!



HALAMAN ENTERI

FOKMAP NTT: Menghadapi Jalan yang Terhempit di Masa Proses Dun...

FOKMAP NTT: Menghadapi Jalan yang Terhempit di Masa Proses Dun... :   Menghadapi Jalan yang Terhempit di Masa Proses Duniaku             K...

TAMPILAN ENTERI